Tanya Jawab Fikih

Ajukan pertanyaan seputar fikih, dan telusuri arsip jawaban dari tim.

Ajukan Pertanyaan

Arsip Tanya Jawab

Shalat

Pa ustadz, bagaimana tatacara shalat jamak qashar? Terima kasih

Shalat Jamak dan Qashar: Keringanan bagi Musafir

Safar sering membuat seseorang kesulitan menjaga shalat tepat waktu dan sempurna. Namun, Islam yang penuh rahmat memberikan keringanan berupa qashar dan jamak. Rasulullah ﷺ menyebut keringanan ini sebagai sedekah dari Allah:

صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ

"(Qashar itu) adalah sedekah yang Allah sedekahkan kepada kalian, maka terimalah sedekah-Nya." (HR. Muslim no. 686)

Sudahkah kita memahami kapan dan bagaimana keringanan ini boleh dilakukan dengan benar?

Dalil Disyariatkannya Qashar dan Jamak

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ

"Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqashar shalat." (QS. An-Nisa': 101)

Adapun dalil jamak, di antaranya hadits Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَبَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ

"Sesungguhnya Rasulullah ﷺ pada Perang Tabuk menjamak antara shalat Zhuhur dengan Ashar, dan antara Maghrib dengan Isya." (HR. Muslim no. 706)

Syarat Shalat Qashar

Al-Qadhi Abu Syuja' rahimahullah dalam Matan Taqrib berkata:

وَيَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ قَصْرُ الصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ بِخَمْسِ شُرُوطٍ: أَنْ يَكُونَ سَفَرُهُ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةٍ، وَأَنْ تَكُونَ مَسَافَتُهُ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا بِلَا إِيَابٍ، وَأَنْ يَكُونَ مُؤَدِّيًا لِلصَّلَاةِ الرُّبَاعِيَّةِ، وَأَنْ يَنْوِيَ الْقَصْرَ مَعَ الْإِحْرَامِ، وَأَنْ لَا يَأْتَمَّ بِمُقِيمٍ.

Seorang musafir dibolehkan mengqashar (meringkas) shalat yang berjumlah empat rakaat dengan lima syarat: (1) perjalanannya bukan untuk maksiat, (2) jaraknya mencapai enam belas farsakh tanpa memperhitungkan perjalanan pulang, (3) shalat yang dikerjakan memang shalat empat rakaat, (4) berniat qashar bersamaan dengan takbiratul ihram, dan (5) tidak bermakmum kepada orang yang mukim.

Penjelasan ringkas:

Yang boleh diqashar hanya shalat empat rakaat, yaitu Zhuhur, Ashar, dan Isya. Adapun Maghrib dan Subuh tidak boleh diqashar.

Perjalanannya harus bukan maksiat, mencakup safar yang wajib (seperti melunasi utang), yang dianjurkan (silaturahim), dan yang mubah (berdagang). Adapun safar untuk maksiat seperti membegal, tidak mendapat keringanan qashar maupun jamak.

Jarak enam belas farsakh sama dengan empat puluh delapan mil Hasyimi, sekali jalan tanpa menghitung jarak pulang. Para ulama kontemporer mengonversinya sekitar ±81–89 km; yang masyhur di Indonesia ±88,7 km (lihat Al-Fiqh Al-Manhaji).

Niat qashar wajib dihadirkan bersamaan takbiratul ihram, misalnya: ushallī fardhazh-zhuhri rak'ataini qashran lillāhi ta'ālā (aku berniat shalat fardhu Zhuhur dua rakaat secara qashar karena Allah Ta'ala).

Jika musafir bermakmum kepada imam yang mukim (shalat sempurna) walau hanya sebagian shalat, ia wajib menyempurnakan empat rakaat.

Syarat Shalat Jamak

Al-Qadhi Abu Syuja' rahimahullah berkata:

وَيَجُوزُ لِلْمُسَافِرِ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِي وَقْتِ أَيِّهِمَا شَاءَ، وَبَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِي وَقْتِ أَيِّهِمَا شَاءَ، وَيَجُوزُ لِلْحَاضِرِ فِي الْمَطَرِ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَهُمَا فِي وَقْتِ الْأُولَى مِنْهُمَا.

Diperbolehkan bagi musafir menjamak shalat Zhuhur dengan Ashar di waktu salah satunya sesuai yang ia kehendaki, demikian pula Maghrib dengan Isya. Dan diperbolehkan bagi orang mukim ketika turun hujan untuk menjamak keduanya di waktu shalat yang pertama.

Penjelasan ringkas:

Jamak di waktu shalat pertama disebut jamak takdim, dan di waktu shalat kedua disebut jamak takhir. Shalat Subuh tidak boleh dijamak, dan Ashar tidak boleh dijamak dengan Maghrib.

Syarat jamak takdim ada tiga (Fathul Qarib):

  1. Tertib, yaitu mendahulukan pemilik waktu: Zhuhur sebelum Ashar, Maghrib sebelum Isya. Jika dibalik, tidak sah.

  2. Niat jamak di dalam shalat pertama, paling utama saat takbiratul ihram, dan menurut pendapat yang lebih kuat masih boleh hingga sebelum salam shalat pertama.

  3. Muwalah (berkesinambungan), tanpa jeda lama antara kedua shalat. Jika jedanya lama menurut kebiasaan, shalat kedua wajib dikerjakan di waktunya sendiri.

Adapun jamak takhir, syaratnya berniat menjamak takhir selagi masih di waktu shalat pertama (minimal tersisa waktu seukuran satu shalat). Dalam jamak takhir, tertib dan muwalah hukumnya tidak wajib menurut pendapat yang sahih.

Contoh Praktik Jamak Qashar

Jamak takdim Zhuhur–Ashar: setelah masuk waktu Zhuhur, kerjakan Zhuhur dua rakaat dengan niat qashar dan jamak, salam, lalu langsung berdiri mengerjakan Ashar dua rakaat. Contoh niat shalat pertama:

أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا مَجْمُوعًا إِلَيْهِ الْعَصْرُ جَمْعَ تَقْدِيمٍ لِلَّهِ تَعَالَى

Ushallī fardhazh-zhuhri rak'ataini qashran majmū'an ilaihil-'ashru jam'a taqdīmin lillāhi ta'ālā.

Jamak takhir Maghrib–Isya: saat masih di waktu Maghrib, berniat dalam hati mengakhirkan Maghrib. Setelah masuk waktu Isya, kerjakan Maghrib tiga rakaat (Maghrib tidak diqashar), lalu Isya dua rakaat secara qashar.

Penutup

Keringanan dalam syariat bukan untuk diremehkan, tetapi untuk memudahkan tanpa melalaikan. Jangan sampai seseorang safar, namun justru meninggalkan shalat atau melaksanakannya tanpa ilmu. Pelajari syarat dan ketentuannya agar ibadah tetap sah dan bernilai. Semoga setiap perjalanan kita menjadi jalan ketaatan, bukan kelalaian.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Referensi: Matan Taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja'; Fathul Qarib karya Ibnu Qasim Al-Ghazzi; Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab karya An-Nawawi; Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i; Shahih Muslim.

Dijawab oleh: DR. KH. Andri Lupias Satedy, Lc. MA