← Kembali ke Materi
Fikih

Sunnah Fitrah: Merawat Diri Sesuai Tabiat Penciptaan

Dr.KH. Andri Lupias Satedy, Lc., MA · 2026-06-12

Sunnah Fitrah: Merawat Diri Sesuai Tabiat Penciptaan
Unduh PDF(271 KB)

Serial Fikih Thaharah — Bagian 4. Mengenal amalan merawat diri yang selaras dengan tabiat penciptaan.

Apa Itu Sunnah Fitrah?

Istilah sunnah fitrah merujuk pada serangkaian amalan merawat diri yang selaras dengan tabiat asli yang Allah tanamkan pada manusia. Ketika seseorang menjalankannya, ia tampil bersih, rapi, dan baik penampilannya — sesuatu yang secara naluri memang dicintai manusia. Amalan ini bukan hal baru: para nabi terdahulu telah mengamalkannya, dan syariat-syariat sebelum Islam pun menyepakatinya, sampai seolah menjadi bagian dari fitrah kemanusiaan itu sendiri.

Apa Manfaatnya?

Para ulama menyebut sunnah fitrah membawa manfaat ganda: untuk agama sekaligus kehidupan dunia. Ibnu Hajar rahimahullah merangkumnya menjadi beberapa hal — memperindah penampilan, menjaga kebersihan dan kesucian tubuh, membedakan diri dari kebiasaan orang kafir, serta menjalankan perintah syariat.

Dalil

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ: الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْآبَاطِ

"Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak." (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah)

عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ

"Sepuluh perkara termasuk fitrah: memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, menghirup air ke hidung (istinsyaq), memotong kuku, membasuh ruas-ruas jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, dan beristinja dengan air." Perawi menyebut lupa perkara kesepuluh, dan menduga itu adalah berkumur. (HR. Muslim, Abu Dāwud, At-Tirmidzi, An-Nasā'i, dan Ibnu Mājah, dari 'Aisyah)

Penyebutan angka "lima" atau "sepuluh" di sini bukanlah pembatas. Berlaku kaidah mafhūm al-'adad laysa bi hujjah — penyebutan bilangan tidak otomatis membatasi maknanya. Maka cakupan sunnah fitrah sesungguhnya lebih luas dari sekadar yang disebut.

Cakupan Sunnah Fitrah

  • Khitan

  • Beristinja (cebok) dengan air

  • Bersiwak

  • Memotong kuku

  • Memotong dan merapikan kumis

  • Memelihara jenggot

  • Mencukur bulu kemaluan

  • Mencabut bulu ketiak

  • Membasuh barājim (sela-sela tempat kotoran berkumpul, seperti sela jari)

  • Berkumur, istinsyaq (menghirup air ke hidung), dan istintsar (mengeluarkannya kembali)

Penjelasan Ringkas

Mencukur bulu kemaluan (istihdad) — membersihkan rambut di sekitar kemaluan. Disebut "istihdad" karena dahulu lazim memakai alat tajam dari besi (hadīd). Boleh dengan dicukur, digunting, atau dicabut, memakai alat apa pun, agar tubuh tetap bersih dan rapi.

Memotong kumis — memendekkannya agar tampak rapi dan bersih, sekaligus menjadi pembeda dari kebiasaan orang kafir.

Memotong kuku — tidak membiarkannya memanjang serta membersihkan kotoran di baliknya, supaya rapi dan tidak menyerupai cakar binatang buas.

Mencabut bulu ketiak — menghilangkan bulu pada lipatan ketiak (dengan dicabut, digunting, dan semisalnya) agar bersih dan terbebas dari bau yang tak sedap.

Adakah Batas Waktunya?

Keempat amalan di atas tidak terikat waktu tertentu — dikerjakan sesuai kebutuhan. Hanya saja, dianjurkan untuk tidak membiarkannya lebih dari 40 hari, berdasarkan riwayat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu:

وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الْأَظْفَارِ وَنَتْفِ الْإِبِطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لَا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

"Kami diberi batas waktu dalam mencukur kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan, agar tidak membiarkannya lebih dari empat puluh malam." (HR. Muslim)

Catatan Penting: Tidak Semuanya "Sekadar Sunnah"

Perlu dipahami, istilah "sunnah fitrah" tidak berarti seluruhnya hanya dianjurkan. Sebagian berhukum wajib, sebagian lagi sunnah. Contoh paling jelas adalah khitan: mazhab Syafi'i dan Hanbali cenderung menilainya wajib, sedangkan Hanafi dan Maliki menilainya sunnah muakkadah. Maka setiap amalan memiliki kedudukan hukumnya masing-masing.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.