Menolak Pinangan Istana, Memilih Mahar Dua Dirham
Dr.KH. Andri Lupias Satedy, Lc., MA · 2026-06-08

Kolom Kisah Hikmah — Seri ke-2. Diangkat dari Siyar A'lam an-Nubala karya Imam adz-Dzahabi, Jilid 4, hlm. 233–234 (cet. Mu'assasah ar-Risalah).
Kisah
Sa'id bin al-Musayyib (15–94 H) adalah pemimpin para tabi'in dan salah satu dari tujuh fuqaha Madinah. Ia memiliki seorang putri yang dikenal cantik dan paling menguasai ilmu ayahnya. Khalifah Abdul Malik bin Marwan meminangnya untuk putra mahkota, al-Walid—calon khalifah berikutnya. Sebuah "tiket" menuju istana, harta, dan kehormatan dunia. Namun Sa'id menolak.
Khalifah tidak terima. Ia terus menekan Sa'id dengan berbagai cara, hingga sang Imam dicambuk seratus kali pada suatu hari yang dingin, disiram seguci air, dan dipakaikan jubah wol kasar. Sa'id tetap pada pendiriannya.
Lalu datanglah kisah yang mengharukan. Katsir bin Abi Wada'ah, seorang murid Sa'id yang miskin, beberapa hari absen dari majelis ilmu. Ketika kembali, Sa'id bertanya ke mana saja ia. Katsir menjawab bahwa istrinya wafat. Sa'id bertanya lagi, "Apakah engkau sudah menikah lagi?"
فَقُلْتُ: يَرْحَمُكَ اللهُ، وَمَنْ يُزَوِّجُنِي وَمَا أَمْلِكُ إِلَّا دِرْهَمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةً؟ قَالَ: أَنَا. فَقُلْتُ: وَتَفْعَلُ؟ قَالَ: نَعَمْ
"Aku menjawab: 'Semoga Allah merahmatimu, siapa yang mau menikahkan putrinya denganku, sedangkan aku tidak memiliki apa-apa kecuali dua atau tiga dirham?' Beliau berkata: 'Aku.' Aku berkata: 'Engkau sungguh mau melakukannya?' Beliau menjawab: 'Ya.' Lalu beliau memuji Allah, bershalawat kepada Nabi ﷺ, dan menikahkan aku (dengan putrinya) dengan mahar dua dirham—atau tiga. Maka aku berdiri dalam keadaan tak tahu apa yang harus kulakukan karena begitu gembiranya."
Malam itu juga, saat Katsir hendak berbuka puasa hanya dengan roti dan minyak, pintunya diketuk. Ternyata Sa'id bin al-Musayyib sendiri—orang yang selama empat puluh tahun tidak pernah terlihat kecuali antara rumah dan masjidnya—datang mengantarkan putrinya kepada sang murid. Putri yang dipinang istana itu kini menjadi istri seorang penuntut ilmu yang fakir, dan ia menjadi sebaik-baik istri: hafal Al-Qur'an, paham sunnah, dan mengerti hak suami.
Sumber: Adz-Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubala, Jilid 4, hlm. 233–234 (biografi Sa'id bin al-Musayyib, cet. Mu'assasah ar-Risalah).
Ibrah dan Pelajaran Penting
Agama dan akhlak adalah standar tertinggi dalam memilih pasangan dan menantu. Sa'id menolak kekuasaan dan memilih ketakwaan; baginya putra Khalifah yang menjanjikan dunia tidak sebanding dengan seorang penuntut ilmu yang fakir namun shalih.
Kemuliaan tidak diukur dari harta dan tahta. Mahar dua dirham yang diberkahi lebih mulia daripada pinangan istana yang membawa fitnah dunia.
Keteguhan prinsip ada harganya. Sa'id rela dicambuk seratus kali demi tidak menggadaikan putrinya—dan agamanya—kepada kekuasaan.
Menyegerakan kebaikan tanpa mempersulit. Sa'id tidak menunda: akad dilangsungkan di majelis itu juga, dan putrinya diantar pada malam harinya. Pernikahan yang paling besar berkahnya adalah yang paling mudah prosesnya.
Kasih sayang guru kepada murid. Sa'id memperhatikan keadaan muridnya, bahkan menjadi solusi atas kesulitannya.
Dalil
Al-Qur'an — Allah ﷽ berfirman:
وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui." (QS. An-Nur: 32)
Hadits Shahih — Rasulullah ﷺ bersabda:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
"Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya engkau beruntung." (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Refleksi
Hari ini banyak pernikahan tertunda—bahkan gagal—karena standar yang terbalik: mahar selangit, gengsi keluarga, dan kalkulasi status sosial. Sementara Sa'id bin al-Musayyib, ulama paling terhormat di Madinah, justru menikahkan putri terbaiknya dengan mahar dua dirham kepada seorang murid fakir—dan menolak istana.
Tanyakan pada diri kita: ketika memilih pasangan untuk diri atau anak kita, manakah yang lebih dulu kita timbang—agamanya atau dunianya? Dan beranikah kita, sebagaimana Sa'id, membayar harga keteguhan prinsip itu, meski harus kehilangan "kesempatan emas" di mata manusia? Sungguh, apa yang ada di sisi Allah tidak pernah mengecewakan orang yang memilih-Nya.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74)
Referensi:
· Adz-Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubala, cet. Mu'assasah ar-Risalah, Jilid 4, hlm. 233–234.
· Shahih al-Bukhari, Kitab an-Nikah, no. 5090; Shahih Muslim, Kitab ar-Radha', no. 1466.
· Al-Qur'an al-Karim, Surah An-Nur ayat 32; Surah Al-Furqan ayat 74.
Penulis: DR. H. Andri Lupias Satedy, Lc., MA