Mengesakan Allah, Pondasi Segala Amal
Dr.KH. Andri Lupias Satedy, Lc., MA · 2026-06-07

Serial Kajian Aqidah Thahawiyah — Bagian 1. Rujukan utama: Al-'Aqidah Ath-Thahawiyah karya Imam Abu Ja'far Ath-Thahawi (239–321 H).
Matan Kitab
Imam Ath-Thahawi rahimahullah membuka kitabnya dengan pernyataan:
نَقُولُ فِي تَوْحِيدِ اللهِ مُعْتَقِدِينَ بِتَوْفِيقِ اللهِ: إِنَّ اللهَ وَاحِدٌ لَا شَرِيكَ لَهُ
"Kami menyatakan tentang pengesaan Allah, dengan meyakini sepenuh hati berkat taufik Allah: sesungguhnya Allah itu Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya."
Satu kalimat pendek, namun di atasnyalah seluruh bangunan Islam berdiri.
Penjelasan
Tauhid adalah perkara pertama yang didakwahkan setiap nabi. Allah ﷻ berfirman:
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku." (QS. Al-Anbiya: 25)
Keesaan Allah juga dirangkum sempurna dalam surah yang oleh Rasulullah ﷺ disebut senilai sepertiga Al-Qur'an, yaitu Al-Ikhlas:
"Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas: 1–4)
Para ulama menjelaskan bahwa mengesakan Allah mencakup tiga hal yang saling terkait: meyakini Allah satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam (tauhid rububiyah), memurnikan seluruh ibadah hanya kepada-Nya (tauhid uluhiyah), dan menetapkan nama serta sifat-Nya sebagaimana Dia menetapkannya untuk diri-Nya tanpa menyerupakan dengan makhluk (tauhid asma wa shifat). Ketiganya bukan tiga tuhan, melainkan tiga sisi pengenalan terhadap Tuhan yang satu.
Mengapa tauhid begitu penting? Karena ia adalah syarat diterimanya amal. Amal sebesar gunung tidak bernilai jika ditujukan kepada selain Allah, dan dosa sebesar bumi masih terbuka pintu ampunannya selama seorang hamba menghadap Allah tanpa menyekutukan-Nya.
Kisah Hikmah: Dialog di Atas Keledai
Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari (no. 2856) dan Shahih Muslim (no. 30) dari sahabat Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu.
Suatu hari Mu'adz dibonceng Rasulullah ﷺ di atas seekor keledai. Di tengah perjalanan, Nabi ﷺ bertanya, "Wahai Mu'adz, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba, dan apa hak para hamba atas Allah?"
Mu'adz menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."
Beliau ﷺ bersabda, "Hak Allah atas para hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan hak para hamba atas Allah adalah Dia tidak akan mengazab orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun."
Mu'adz yang gembira bertanya, "Wahai Rasulullah, bolehkah aku sampaikan kabar gembira ini kepada manusia?" Nabi ﷺ menjawab, "Jangan engkau sampaikan, nanti mereka bersandar (lalu meninggalkan amal)."
Dua pelajaran dari kisah ini. Pertama, betapa agungnya kedudukan tauhid: ia disebut sebagai hak Allah, kewajiban paling mendasar sebelum kewajiban apa pun. Kedua, kekhawatiran Nabi ﷺ bahwa manusia akan "bersandar" mengajarkan bahwa tauhid yang benar justru melahirkan amal, bukan meninggalkannya.
Refleksi
Tanyakan kepada diri kita hari ini: kepada siapa hati kita bergantung saat rezeki menyempit — kepada Allah, atau kepada atasan dan relasi? Kepada siapa kita paling takut — kepada Allah, atau kepada penilaian manusia? Untuk siapa kita beramal — untuk Allah, atau untuk dilihat orang?
Tauhid bukan sekadar hafalan di lisan, melainkan arah hati. Setiap kali hati condong menggantungkan harapan, rasa takut, dan cinta tertinggi kepada selain Allah, di situlah tauhid kita sedang diuji.
Amalan pekan ini: baca dan renungkan surah Al-Ikhlas setiap selesai shalat fardhu, sambil menghadirkan maknanya — cukuplah Allah sebagai tempat bergantung segala urusan.
Rujukan
Al-Qur'an dan Terjemahnya, Kementerian Agama RI.
Abu Ja'far Ath-Thahawi, Al-'Aqidah Ath-Thahawiyah.
Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Jihad, no. 2856.
Muslim, Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, no. 30.
Ibnu Abil 'Izz Al-Hanafi, Syarh Al-'Aqidah Ath-Thahawiyah.
Penulis: DR. H. Andri Lupias Satedy, Lc., MA — Serial Kajian Aqidah Thahawiyah attasis.id. Insya Allah berlanjut ke Bagian 2: "Tidak Ada Sesuatu pun yang Serupa dengan-Nya".