Maha Terdahulu Tanpa Permulaan, Maha Kekal Tanpa Kesudahan
Dr.KH. Andri Lupias Satedy, Lc., MA · 2026-06-07

Serial Kajian Aqidah Thahawiyah — Bagian 3. Rujukan utama: Al-'Aqidah Ath-Thahawiyah karya Imam Abu Ja'far Ath-Thahawi (239–321 H).
Matan Kitab
Imam Ath-Thahawi melanjutkan sifat-sifat Allah:
قَدِيمٌ بِلَا ابْتِدَاءٍ، دَائِمٌ بِلَا انْتِهَاءٍ، لَا يَفْنَى وَلَا يَبِيدُ
"(Allah) Maha Terdahulu tanpa permulaan, Maha Kekal tanpa kesudahan, tidak akan punah dan tidak akan binasa."
Penjelasan
Akar kalimat ini adalah firman Allah ﷻ:
"Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Hadid: 3)
Rasulullah ﷺ sendiri menafsirkan nama-nama agung ini dalam doa beliau sebelum tidur: "Ya Allah, Engkau Al-Awwal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu; Engkau Al-Akhir, tidak ada sesuatu pun setelah-Mu..." (HR. Muslim no. 2713). Tidak ada titik awal sebelum Allah dan tidak ada titik akhir setelah-Nya — waktu itu sendiri adalah ciptaan-Nya.
Adapun seluruh makhluk, hukumnya kebalikan dari itu:
"Semua yang ada di bumi itu akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal." (QS. Ar-Rahman: 26–27)
Di sinilah letak hiburan terbesar bagi orang beriman: harta bisa habis, jabatan bisa dicopot, orang tercinta bisa pergi — tetapi Dzat tempat kita menggantungkan segalanya tidak pernah ke mana-mana, dulu, kini, dan selamanya.
Kisah Hikmah: Khutbah di Hari Paling Kelam
Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Maghazi, dari Aisyah dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum.
Senin, 12 Rabiul Awal 11 H. Kabar wafatnya Rasulullah ﷺ mengguncang Madinah. Sebagian sahabat tidak sanggup mempercayainya — bahkan Umar bin Khattab berdiri dan berkata bahwa Rasulullah ﷺ tidaklah wafat. Para sahabat yang gagah berani di medan perang itu lumpuh oleh duka.
Lalu datanglah Abu Bakar. Ia masuk ke rumah Aisyah, menyingkap kain penutup wajah Rasulullah ﷺ, mengecup kening beliau sambil menangis. Kemudian ia keluar menemui manusia dan menyampaikan kalimat yang diabadikan sejarah:
"Barangsiapa di antara kalian menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak akan pernah mati."
Lalu beliau membacakan firman Allah: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?..." (QS. Ali Imran: 144). Umar berkata, ketika mendengar ayat itu dibacakan, kedua kakinya lemas hingga ia jatuh ke tanah — saat itulah ia sadar Rasulullah ﷺ benar-benar telah wafat.
Inilah buah aqidah yang lurus: di saat paling gelap sekalipun, orang yang hatinya bersandar kepada Yang Maha Kekal tidak akan runtuh, karena sandarannya tidak pernah runtuh.
Refleksi
Periksa kembali tempat kita menambatkan hati. Jika kebahagiaan kita seratus persen bergantung pada sesuatu yang fana — pasangan, anak, karier, kesehatan — maka kita sedang membangun rumah di atas es yang pasti mencair. Bukan berarti tidak boleh mencintai semua itu; tetapi jadikan cinta tertinggi dan sandaran terakhir hanya kepada Yang tidak pernah binasa.
Orang yang bersandar kepada Al-Awwal Al-Akhir tidak akan hancur oleh kehilangan apa pun, karena ia tidak pernah kehilangan Allah.
Amalan pekan ini: hafalkan dan baca doa Nabi ﷺ sebelum tidur — "Allahumma Antal-Awwalu falaisa qablaka syai', wa Antal-Akhiru falaisa ba'daka syai'" (Ya Allah, Engkau Al-Awwal, tidak ada sesuatu sebelum-Mu; Engkau Al-Akhir, tidak ada sesuatu setelah-Mu) — HR. Muslim no. 2713.
Rujukan
Al-Qur'an dan Terjemahnya, Kementerian Agama RI.
Abu Ja'far Ath-Thahawi, Al-'Aqidah Ath-Thahawiyah.
Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Maghazi, Bab Sakit dan Wafatnya Nabi ﷺ.
Muslim, Shahih Muslim, Kitab Adz-Dzikr wad-Du'a, no. 2713.
Ibnu Abil 'Izz Al-Hanafi, Syarh Al-'Aqidah Ath-Thahawiyah.
Penulis: DR. H. Andri Lupias Satedy, Lc., MA — Serial Kajian Aqidah Thahawiyah attasis.id. Insya Allah berlanjut ke Bagian 4: "Tidak Ada Sesuatu pun Terjadi Kecuali dengan Kehendak-Nya".