← Kembali ke Materi
Parenting

Ayah yang Hadir: Belajar dari Dialog Ayah-Anak dalam Al-Qur'an

Dr.KH. Andri Lupias Satedy, Lc., MA · 2026-06-08

Ayah yang Hadir: Belajar dari Dialog Ayah-Anak dalam Al-Qur'an
Unduh PDF(533 KB)

Rubrik Parenting Islami — Artikel 2. Oleh: DR. H. Andri Lupias Satedy, Lc., MA.

Realita di Lapangan

Di banyak rumah, ayah hadir secara fisik tetapi absen secara emosional. Berangkat sebelum anak bangun, pulang ketika anak hampir tidur; kalaupun di rumah, perhatiannya tersedot layar ponsel atau lelah pekerjaan. Urusan anak — sekolah, mengaji, curhat, bahkan menghadiri rapat wali murid — nyaris seluruhnya dilimpahkan kepada ibu, seolah pengasuhan adalah "kodrat ibu" semata dan tugas ayah selesai pada mencari nafkah.

Para psikolog menyebut dampaknya sebagai father hunger — kelaparan figur ayah: anak yang tumbuh tanpa kedekatan dengan ayahnya cenderung lebih rapuh secara emosi, mudah terbawa lingkungan, dan kehilangan teladan ketegasan. Anak laki-laki kehilangan model menjadi lelaki yang bertanggung jawab; anak perempuan kehilangan standar bagaimana seharusnya ia dihargai lelaki.

Pandangan Islam

Menariknya, Al-Qur'an justru berbicara sebaliknya dari realita kita. Sebuah tesis magister di Universitas Ummul Qura, Makkah, karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah Al-Muthiri (1429 H), berjudul Hiwar Al-Aba' ma'a Al-Abna' fi Al-Qur'an Al-Karim wa Tathbiqatuhu At-Tarbawiyah, memetakan dialog pengasuhan dalam Al-Qur'an. Hasilnya: terdapat 17 dialog antara orang tua dan anak yang tersebar di 9 surat — 14 di antaranya dialog ayah dengan anak, 2 dialog ibu dengan anak, dan 1 dialog orang tua (tanpa disebut namanya) dengan anak.

Lihatlah siapa yang Allah abadikan sedang berbicara dengan anaknya: Luqman menasihati putranya, Ibrahim bermusyawarah dengan Isma'il, Ya'qub mendengarkan mimpi Yusuf, Nuh memanggil anaknya di tengah badai. Para ayah. Di antaranya:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya: 'Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah...'" (QS. Luqman [31]: 13)

Perhatikan panggilannya: yaa bunayya — "wahai anakku sayang", bentuk tashghir yang penuh kelembutan. Begitu pula Ibrahim, bahkan untuk perintah Allah pun ia tetap membuka ruang dialog dengan anaknya:

"Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?" (QS. Ash-Shaffat [37]: 102)

Seorang nabi, menerima wahyu, masih bertanya "bagaimana pendapatmu?" kepada anaknya. Inilah adab dialog yang melahirkan jawaban luar biasa dari Isma'il: "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu."

Tanggung jawab ini memang dipikulkan kepada kepala keluarga. Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim [66]: 6). Dan Rasulullah ﷺ menegaskan:

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya... Seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Al-Bukhari no. 893; Muslim no. 1829)

Maka dalam Islam, ayah bukan sekadar penyandang dana pendidikan. Ia adalah penanggung jawab utamanya.

Kisah Hikmah

Umar bin Abi Salamah radhiyallahu 'anhuma adalah anak tiri Rasulullah ﷺ, putra Ummu Salamah. Ia bercerita tentang masa kecilnya di rumah Nabi:

"Dahulu aku adalah anak kecil dalam asuhan Rasulullah ﷺ. Tanganku bergerak ke sana ke mari di nampan (saat makan). Maka Rasulullah ﷺ berkata kepadaku:

يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

'Wahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang dekat denganmu.'

Maka begitulah cara makanku sejak itu dan seterusnya." (HR. Al-Bukhari no. 5376; Muslim no. 2022)

Perhatikan tiga hal. Pertama, Rasulullah ﷺ hadir di meja makan bersama anak — momen sederhana yang kini langka. Kedua, beliau mendidik tepat pada momennya: singkat, jelas, tanpa mempermalukan, tanpa ceramah panjang. Ketiga, dampaknya seumur hidup — Umar sendiri bersaksi bahwa adab itu melekat padanya selamanya. Satu kalimat dari ayah yang hadir, lebih membekas daripada seribu nasihat dari ayah yang sibuk.

Refleksi

Jika Al-Qur'an "merekam" dialog para ayah dengan anaknya, dialog apa yang sedang kita bangun hari ini dengan anak kita? Jangan sampai kelak anak mengenang ayahnya hanya sebagai sosok yang membayar tagihan, bukan sosok yang mendengarkan ceritanya.

Mulailah dari yang sederhana: makan bersama tanpa ponsel, antarkan anak shalat berjamaah, dengarkan ceritanya sebelum tidur, tanyakan pendapatnya sebagaimana Ibrahim bertanya kepada Isma'il, dan doakan ia dengan namanya disebut. Kehadiran ayah tidak diukur dari lamanya, tetapi dari hadirnya hati saat bersama.

Nafkah memang kewajiban ayah. Tetapi anak tidak pernah merindukan uang ayahnya — ia merindukan ayahnya. Wallahu a'lam bish-shawab.

Referensi

  1. Al-Qur'an: QS. Luqman [31]: 13; QS. Ash-Shaffat [37]: 102; QS. At-Tahrim [66]: 6; QS. Yusuf [12]: 4–5.

  2. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, no. 893 (hadits pemimpin); no. 5376 (kisah Umar bin Abi Salamah).

  3. Muslim, Shahih Muslim, no. 1829; no. 2022.

  4. Sarah binti Halil bin Dakhilallah Al-Muthiri, Hiwar Al-Aba' ma'a Al-Abna' fi Al-Qur'an Al-Karim wa Tathbiqatuhu At-Tarbawiyah, Tesis Magister, Universitas Ummul Qura, Makkah, 1429 H.

Penulis: DR. H. Andri Lupias Satedy, Lc., MA — Rubrik Parenting Islami.