Anak Kita Meniru, Bukan Mendengar: Keteladanan sebagai Kurikulum Pertama
Dr.KH. Andri Lupias Satedy, Lc., MA · 2026-06-08

Rubrik Parenting Islami — Artikel 1. Oleh: DR. H. Andri Lupias Satedy, Lc., MA.
Realita di Lapangan
Seorang ayah mengeluh anaknya susah diajak shalat, padahal ia sendiri sering menunda shalat sampai akhir waktu sambil memegang ponsel. Seorang ibu kesal anaknya berbicara kasar, padahal di rumah anak itu terbiasa mendengar nada tinggi setiap hari.
Fenomena ini sangat umum. Banyak orang tua merasa sudah "mendidik" karena sudah menasihati. Padahal anak — terutama di usia dini — belajar jauh lebih banyak dari apa yang ia lihat daripada apa yang ia dengar. Dalam psikologi perkembangan, ini dikenal sebagai observational learning: anak merekam perilaku orang terdekatnya, lalu menirunya tanpa perlu diajari secara verbal.
Maka perintah tanpa teladan sering berakhir dengan tiga hal: anak mengabaikan, anak melawan, atau anak menaati di depan kita lalu meninggalkannya di belakang kita.
Pandangan Islam
Islam menempatkan keteladanan (qudwah) sebagai metode pendidikan paling utama. Allah ﷽ berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..." (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Allah tidak hanya mengutus Rasul dengan kitab, tetapi dengan sosok. Nilai-nilai luhur memang dirancang untuk ditransfer melalui contoh hidup, bukan sekadar teks dan ceramah. Allah juga memberi peringatan keras bagi yang ucapannya tidak selaras dengan perbuatannya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Ash-Shaff [61]: 2–3)
Sementara Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa anak lahir dalam keadaan fitrah, dan lingkungan terdekatnyalah yang membentuknya:
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Al-Bukhari no. 1358; Muslim no. 2658)
Orang tua adalah "cetakan" pertama anak. Sebelum anak mengenal guru, buku, dan media, ia lebih dulu mengenal wajah, lisan, dan kebiasaan ayah-ibunya.
Kisah Hikmah
Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan kisah Perjanjian Hudaibiyah. Setelah perjanjian disepakati, Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat menyembelih hewan dan mencukur rambut (bertahallul). Namun karena kecewa dengan isi perjanjian yang tampak merugikan kaum muslimin, tidak ada seorang pun yang bergerak — bahkan setelah perintah diulang tiga kali.
Rasulullah ﷺ lalu menemui Ummu Salamah radhiyallahu 'anha. Ummu Salamah memberi saran yang sangat cerdas: "Wahai Rasulullah, keluarlah, jangan berbicara sepatah kata pun kepada mereka, sampai engkau menyembelih untamu sendiri dan memanggil tukang cukurmu."
Rasulullah ﷺ melakukannya. Begitu para sahabat melihat beliau menyembelih dan bercukur, mereka serentak bangkit melakukan hal yang sama. (HR. Al-Bukhari no. 2731–2732, dari Al-Miswar bin Makhramah dan Marwan)
Renungkanlah: para sahabat — generasi terbaik umat ini — yang tidak tergerak oleh perintah lisan tiga kali, langsung bergerak oleh satu tindakan nyata. Jika manusia dewasa yang imannya kokoh saja demikian, bagaimana dengan anak-anak kita?
Refleksi
Mari jujur bertanya pada diri sendiri: ketika kita menyuruh anak shalat, apakah ia melihat kita bersegera saat azan berkumandang? Ketika kita melarangnya berbohong, apakah ia pernah mendengar kita berkata "bilang saja ayah tidak ada di rumah"? Ketika kita membatasi gadget-nya, apa yang ada di tangan kita sepanjang malam?
Keteladanan memang berat, karena ia menuntut kita memperbaiki diri lebih dulu sebelum memperbaiki anak. Tetapi justru di situlah letak keberkahannya: mendidik anak pada hakikatnya adalah mendidik diri sendiri.
Anak kita mungkin tidak selalu mendengarkan nasihat kita. Tetapi yakinlah, ia hampir tidak pernah gagal meniru kita. Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi
Al-Qur'an: QS. Al-Ahzab [33]: 21; QS. Ash-Shaff [61]: 2–3.
Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, no. 1358 (hadits fitrah); no. 2731–2732 (kisah Hudaibiyah).
Muslim, Shahih Muslim, no. 2658.
Penulis: DR. H. Andri Lupias Satedy, Lc., MA — Rubrik Parenting Islami.